MAKALAH
ISLAM ZAMAN KOLONIAL BELANDA DAN JEPANG
PERJUANGAN MERDEKA

Oleh
:
NAMA :
FAIKAR SETYAWAN
IRMA SANDI
LOKAL :
IV B AGROTEKNOLOGI
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN DAN PETERNAKAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU
PEKANBARU
2013
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Meneliti sejarah bangsa Indonesia
tidak akan lepas dari umat islam, baik dari perjuangan melawan penjajah maupun
dalam lapangana pendidikan. Melihat kenyataan betapa bangsa Indonesia yang
mayoritas beragama Islam mencapai keberhasilan dengan berjuang secara tulus
ikhlas mengabdikan diri untuk kepentingan agamanya disamping mengadakan
perlawanan militer.
Di antara ciri-ciri Islam yang
dapat menduduki ranking par-excellence (istimewa) ialah kerana sifatnya
yang universal,
setiap aspek kehidupan tidak terlepas dari peraturannya tidak terkecuali aspek
politik dan dunia pendidikan di Indonesia. Signifikansi hubunganyang begitu erat antara Islam dan Indonesia sebagai
suatu daerah teritorial, menyebabkan penjajahan lebih dari tiga abad oleh
Belanda dan Jepang gagal dalam upaya deislamisasi agar akidah Islam tercabut
dari umat Islam.
Kaum kolonial Belanda berhasil
menancapkan kukunya di bumi Nusantara dengan misinya yang ganda (antara
imperialis dan kristenisasi) justru sangat merusak dan menjungkirbalikkan tatanan
yang sudah ada. Sejak dari zaman VOC (Belanda
Swasta) kedatangan mereka di Indonesia sudah bermotif ekonomi, politik dan
agama.
Jepang muncul
sebagai negara kuat di Asia. Bangsa Jepang bercita-cita besar, menjadi pemimpin
Asia Timur Raya, dan hal ini sudah direncanakan
jepang sejak tahun 1940 untuk mendirikan kemakmuran bersama Asia Raya.
1.2. Pembahasan Masalah
Ø Bagaimana politik islam pada zaman Kolonial Belanda dan
Jepang
Ø Bagaimana pendidikan islam pada
zaman kolonial Belanda dan Jepang
Ø Bagaimana perjuangan umat islam untik mendapatkan
kemerdekaan
Ø Kondisi umat islam masa Kolonial.
1.3. Tujuan
Tujuan
dari hal – hal yang akan dibahas berikut ini akan memberikan pengetahuan kita
tentang perjuangan islam pada zaman kolonialisme.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1.ZAMAN KOLONIAL
A. Masa Kolonial Belanda
Pada awalnya
kedatangan Belanda ke Indonesia adalah untuk menjalin hubungan
perdagangan dengan bangsa Indonesia.Tetapi rupanya dibalik semua itu Belanda
memiliki maksud terselubung. Belanda berupaya menancapkan pengaruhnya terhadap
bangsa Indonesia, Sehingga lambat laun Belanda berhasil memperkuat penetrasinya di Indonesia. Belanda tidak
hanya memonopoli perdagangan bangsa Indonesia dengan system kapitalisnya, namun
satu demi satu Belanda berhasil menundukkan penguasa-penguasa lokal,kemudian
merampas daerah-daerah
tersebut kedalam kekuasaannya,dan dibalik semua itu bertujuan missioner.[1]
Sebelum tahun 1795 Belanda telah berusaha memeras produk pertanian seperti kopi, teh, dan lada,melalui penyerahan paksa dan
menjualnya ke pasaran Eropa. Namun kekalahan Belanda terhadap Prancis tahun 1795 dan hancurnya Duch East India Company tahun 1799 mendesak Republic Belanda mencari cara baru untuk mengeksploitasi ekonomi kolonial. Belanda bermaksud memusatkan
kekuasaan politik dalam rangka memaksimalkan pemerasan
pajak.[2]
Jadi tujuan utama
Belanda datang ke Indonesia ,untuk
mengembangkan usha perdagangan ,yaitu mendapatkan rempah-rempah yang
mahal harganya di Eropa.
Sebelum tahun 1795 Belanda telah berusaha memeras produk pertanian seperti kopi, teh, dan lada,melalui penyerahan paksa dan
menjualnya ke pasaran Eropa. Namun kekalahan Belanda terhadap Prancis tahun 1795 dan hancurnya Duch East India Company tahun 1799 mendesak Republic Belanda mencari cara baru untuk mengeksploitasi ekonomi kolonial. Belanda bermaksud memusatkan
kekuasaan politik dalam rangka memaksimalkan pemerasan
pajak.[3]
Jadi tujuan utama Belanda datang ke Indonesia ,untuk mengembangkan usha perdagangan ,yaitu
mendapatkan rempah-rempah yang mahal harganya di Eropa.[4]
Melihat hasil yang diperoleh Perseroan Amsterdam itu,banyak
persorean lain berdiri yang juga ingin berdagang dan berlayar ke Indonesia.Pada bulan Maret
1602,perseroan-perseroan itu bergabung dan disahkan oleh Staten –General Republik dengan suatu piagam yang member ikan
hak khusus ke pada perseroan gabungan tersebut untuk berdagang ,berlayar,dan
memegang kekuasaan di kawasan antara Tanjung Harapan dan kepulauan
Soloman,termasuk kepulawan Nusantara.[5]
Jadi kolonialisme di Indonesia dimulai sejak pemulaan
abad ke 17 dengan didirikannya Vereenigde Oost Indisce Compagnie(VOC) 1602.[6][5]VOC melakukan monopoli rempah-rempah dengan
jumlah dan harga yang ditetapkan oleh VOC.Untuk merealisasikan kolonialisme
tersebut cara yang di tempuh antara lain
pemerintah kolonial mengadakan Culturr Stelsel (Tanam Paksa) tahun
1830-1870,sebagai manifestasi dari
system perbudakan dan merupakan bencana
bangsa Indonesia.
Kehadiran
belanda bukan hanya mengeksploitasi kekayaan alam iIndonesia ,tetapi juga
menekan politik dan keagamaan rakyat.
Kondisi Kerajaan Islam Di Indonesia Ketika Belanda Datang
Keadaan kerajaan-kerajaan islam
menjelang dtngnya belanda diakhir abad ke-16 dan awal abad ke-17 ke Indonesia
berbeda-beda,bukan hanya berkenaan dengan politik ,tetapi juga bproses
islamisasinya.Pada waktu itu di Sumatra
,penduduk sudah islam sekitar tiga abad,sedangkan di Maluku dan Sulawesi proses
islamisasi baru sedang berlangsung. Di Sumatra kerajaan malaka jatuh
ke tangan portugis ,sehingga persatuan politik di kawasan Selat Malaka merupakan perjuangan segi tiga
Aceh ,Portigis dan Johor yang merupakan kelanjutan dari kerajaan Malaka
Islam. [7]
Pada abad ke-16
,Aceh kelihtan lebih dominan,karna para
pedagang muslim menghindar dari Malaka lebih memilih Aceh sebagai pelabuahan
transit. Kemenangan Aceh atas Johor pada tahun 1564 ,membuat kerajaan ini menjadi
daerah vassal dari Aceh.
Aceh telah berhasil mengusai daerah-daerah di Sumatra
bagian Utara, Stelah itu Aceh juga berusaha menguasai Jambi pelabuhan pengekspor lada yang banyak
dihasilkan di daerah-daerah pedalaman,seperti Minangkabau dan diangkut lewat
sungai Indragiri ,Kampar,dan Batanghari.
Di daerah jambi penduduknya ketika itu sudah islam,jambi juga merupakan pelabuhan
transito,tempat beras dan bahan-bahan lain dari jawa ,cina,India, dan lain-lain
di ekspor ke Malaka.Selain itu Aceh juga berhasil menguasai perdagangan pantai
barat Sumatra dan mencakup Tiku ,Pariaman, dan Bengkulu.Ketika itu ,Aceh memang
berada pada masa kejayaan dibawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda.
Setelah sulatan Iskandar Muda wafat digantikan oleh
Sultan Iskandar Tsani.Sultan ini masih mampu mempertahankan kebesaran Aceh.Akan
tetapi ,setelah dia wafat 15 februari 1641 ,Aceh secara berturut-turut dipimpin
oleh tiga orang wanita selama 59 tahun.Ketika itu lah Aceh mulai menaglami
kemunduran. Daerah-daerah di Sumatra yang dulu berada di bawah kekusaannya
mulai memerdekakan diri.
Meski sudah
menurun Aceh masih bertahan lama menikmati kedaulatannya dari intervensi
kekuasaan asing.Padahal kerajaan islam lainnya seperti Minang kabuau,Jambi,Riau
dan Palembang tidak demikian.[8]
Di Jawa,pusat kerajaan islam sudah pindah dari pesisir ke pedalaman ,yaitu dari Demak
ke Pajang kemudian ke Mtaram.Perpindahan ini membawa pengaruh besar yang sangat menentukan perkembangan sejarah islam
di Jawa,diantaranya adalah : Kekuasaan dan system politik didasarkan atas garis
agraris,peranan daerah pesisir dalam perdagangan dan pelayaran mundur,begitu
juga dengan pedagang dan pelayar Jawa,terjadinya pergeseran pusat-pusta
perdagangan dalam abad ke-17 dengan
segala akibatnya.
Di Sulawesi pada
akhir abad ke -16 pelabuhan Makasar berkembang dengan pesat.Letaknya
memang strategis.Akan tetapi ,ada
factor-faktor lain yang mempercepat perkembangan itu adalah sebagai berikut:
Pertama, penduduk Malaka oleh Portugis mengakibatkan terjadinya
migrasi perdagangan Melayu,antara lain ke Makasar. Kedua, arus migrasi Melayu bertambah besar
setelah Aceh mengadakan ekspedisi terus menerus ke Johor dan
pelabuhan-pelabuhan di semenanjung Melayu. Ketiga blockade Belanda terhadap
malaka dihindari oleh pedagang-pedagang ,baik Indonesia maupun India
,merosotnya pelabuhan Jawa Timur mengakibatkan fungsinya diambil oleh pelabuhan
Makasar,usaha belanda memonopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku membuat
Makasar memiliki kedudukan sentral bagi perdagangan antara Malaka dan
Maluku.Itu membuat pasar berbagai macam barang berkembang disana.[9]
Sementara itu ,Maluku ,Banda,Seram dan Ambon sebagai
pangkal atau ujung perdagangan rempah-rempah menjadi sasaran pedagang Barat ayang ingin menguasainya dengan politik
monopolinya.Ternate dan Tidore dapat terus berhasil dan mengelakkan dominasi total
dari portugis dan spanyol, namun dia mendapat ancaman dari belanda yang datang
kesana.
B. Masa Kolonial
Jepang
Masa penjajahan Jepang di Indonesia dimulai pada tahun 1942
dan berakhir pada tanggal 17 Agustus 1945 seiring dengan Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia oleh Soekarno dan M. Hatta atas nama bangsa Indonesia. Pada Mei 1940,
awal Perang Dunia II, Belanda diduduki oleh Nazi Jerman. Hindia-Belanda
mengumumkan keadaan siaga dan di Juli mengalihkan ekspor untuk Jepang ke AS dan
Britania. Negosiasi dengan Jepang yang bertujuan untuk mengamankan persediaan
bahan bakar pesawat gagal di Juni 1941, dan Jepang memulai penaklukan Asia
Tenggara di bulan Desember tahun itu. Di bulan yang sama, faksi dari Sumatra
menerima bantuan Jepang untuk mengadakan revolusi terhadap pemerintahan
Belanda. Pasukan Belanda yang terakhir
dikalahkan Jepang pada Maret 1942.
Masuknya Jepang ke Indonesia setelah Pemerintah belanda
sejak tanggal 8 maret 1942 lenyap dari
bumi Indonesia karna harus bertekuk
lutut kepada jepang.Namun Indonesia
belum bebas dari penjajahan,karna
jepang mengambil alih pendududkan Indonesia dari Belanda. Selanjut nya memasuki kehidupan baru dibawah pemerintah
Jepang.Jepang memiliki cita-cita besar
ingin menjadi pemimpin Asia Timur Raya. Hal itu sudah dirancang Jepang sejak
tahun 1940 untuk membangun bersama Asia Raya.[10]
Partai-partai Islam seakan mendapatkan kekuatan kembali
setelah Jepang datang menggantikan
posisi belanda.Jepang berusaha
mengakomodasi dua kekutan islam dan
nasionalisme sekuler ,ketimbangan
pimpinan tradisional (raja dan bansawan). Karna menurut Jepang
organisasi-organisasi islamlah sebenarnya mempunyai massa yang patuh dan hanya
dengan kekuatan agama penduduk bisa dimobilisasi. Oleh karna itu organisasi non islam dibubarkan,maka
organisasi-organisasi besar islam seperti Muhammadiyah,NU, Persyariktan Ulama, Majlis Islam A’la Indonesia (MIAI),yang kemudian
dilanjutkan Masyumi,
diperkenankan
meneruskan kegiatannya.
Pemohonan
Masyumi untuk mendirikan barisan Hizbullah diterima oleh Jepang,sebuah wadah
kemileteran bagi para santri untuk mempersiapkan tenaga-tenaga militer yang
ahli.[11]
Pada babak pertamanya memang
pemerintah Jepang menampakkan diri seakan-akan membela kepentingan Islam, yang
merupakan suatu siasat untuk kepentingan Perang Dunia ke II.
Untuk mendekati umat Islam
Indonesia mereka menempuh kebijaksanaan antara lain :
- Kantor Urusan Agama yang pada zaman Belanda disebut : Kantor Voor Islamistische Saken yang dipimpin oleh orang-orang Orientalisten Belanda, diubah oleh Jepang menjadi Kantor Sumubi yang dipimpin oleh ulama Islam sendiri yaitu K.H. Hasyim Asy’ari dari Jombang dan di daerah-daerah dibentuk Sumuka.
- Pondok pesantren yang besar-besar sering mendapat kunjungan dan bantuan dari pembesar-pembesar Jepang.
- Sekolah negeri diberi pelajaran budi pekerti yang isinya identik dengan ajaran agama.
- Di samping itu pemerintah Jepang mengizinkan pembentukan barisan Hisbullah untuk memberikan latihan dasar kemiliteran bagi pemuda Islam. Barisan ini dipimpin oleh K.H. Zainul Arifin.
- Pemerintah Jepang mengizinkan berdirinya Sekolah Tinggi Islam di Jakarta yang dipimpin oleh K.H. Wahid Hasyim, Kahar Muzakir dan Bung Hatta.
- Para ulama Islam bekerja sama dengan pemimpin-pemimpin nasionalis diizinkan membentuk barisan Pembela Tanah Air (Peta). Tokoh-tokoh santri dan pemuda Islam ikut dalam latihan kader militer itu, antara lain : Sudirman, Abd. Khaliq Hasyim, Iskandar Sulaiman, Yusuf Anis, Aruji Kartawinata, Kasman Singodimejo, Mulyadi Joyomartono, Wahib Wahab, Sarbini Saiful Islam dan lain-lain. Tentara pembela Tanah Air inilah yang menjadi inti dari TNI Sekarang.
- Umat Islam diizinkan meneruskan organisasi persatuan yang disebut : Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) yang bersifat kemasyarakatan.[12]
Dalam kelompok
nasionalis dibentuk lembaga-lembaga baru
pada saat pemerintahan Jepang ,seperti Gerakan Tiga A yakni Nippon Chaya Asia
,Nippon Pelindung Asia,Nippon Pemimpin Asia,tspi hanya bertahan beberapa bulan
sejak Mei 1942 dan Pusat Tenaga Rakyatyang didirikan 1943,pengembangan putra
dumulai April 1943 dan sebagai pemimmpin tertingginya adalah Soekarno yang
dipimpin oleh Hatta,KI Hajar Dewantara,dan K.H.Mas Mansur,mereka dikenal dengan
empat serangkai pemimpin bangsa.[13]
Dari
empat serangkai itu tercermin sebagai
tokoh nasionalis sekuler lebih dominan dalam gerakan kebangsaan daripada golongan islam.Kemudian Jepang
menjanjikan kemerdekaan pada rakyat Indonesia dengan janji mengeluarkan
maklumat Gunseikan nomor 23/29 April 1945 tentang pembentukan Badan Penyelidik
Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).Berbeda dengan stuasi
sebelumnya dimana kalangan islam
mendapat layanan dari jepang ,keanggotaan BPUPKI didominasi oleh golongan nasionalis sekuler yang ketika itu lazim disebut dengan golongan
kebangsaan,dan didalam inilah soekarno mencetuskan ide pancasila.
Meskipun
dalm perumusan pancasila itu terdapat prinsip ketuhanan ,tetapi terkesan
Negara dipisahkan dari agama. Setelah
itu dialog resmi ideology antara dau golongan terbukti dalam suatu forum musyawarah. Panitia
Sembilan, semacam sebuah komisi dari
forum itu membahas hal-hal yang sangat
mendasar ,prembule UUD. Lima
orang mewakili golongan nasionalis
sekuler yakni soekarno
,Hatta,Yamin,Maramis dan Subardjo.Adapun yang mewakili golongan islam ada 4
orang Agus Salim, Abdul Kahar Muzakir,
Wahid Hasyim,dan
Abikusno Tjikrosujoso. Kompromi yang dihasilkan atas musyawarah ini dikenal dengan Piagam Jakarta.[14]
Sila pertama yang
merupakan prinsip ketuhanan berarti
kewajiban melakukan syariat islam bagi pemeluk-pemeluknya. Kalimat tersebut
dabahas lagi pada siding pleno ,Piagam Jakarta diterima sebagai muqadimah konstitusi dengan alasan bahwa hal itu nerupakan suatu kompromi yang dicapai dengan
susah payah. Menjelang kemerdekaan setelah Jepang tidak dapat menghindari
kekalahan dari tentara sekutu, BPUPKI ditingkatkan menjadi Panitia
Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).
BPUPKI khusus untuk pulau Jawa ,PPKI
merupakan perwakilan daerah seluruh kepulauan Indonesia.
Perubahan tersebut menyebapkan banyak anggota BPUPKI
tidak muncul lagi termasuk beberapa orang Panitia Sembilan .Persentase nasionalis Islam merosot
tajam. Suasana demikian hatta dalam sidang PPKI setelah kemerdekaan berhasil
dengan mudah meyakinkan anggota bahwa hanya dengan konstitusi sekuler yang
mempunyai peluang untuk diterima mayoritas rakyat Indonesia.
A.Politik Islam
Masa Penjajahan Belanda
Pada tahun 1755 VOC berhasil menjadi
pemegang hegemoni politik pulau jawa dengan perjanjian Giyanti,oleh karna itu
raja Jawa pada saat itu kehilangan kekuasaan politiknya.Bahkan kebiwaan raja jawa
pada saat itu sangat tergantung kepada VOC. Pada saat itu campur tangan kolonial terhadap kehidupan karaton
makin meluas, sehingga
ulama-ulama keraton sebagai penasihat raja-raja tersingkir.
Reaksi paling awal terhadap konsolidasi pemerintahan Belanda dan hancurnya aristokrasi lama datang dari kalangan muslim.
Keseimbangan kekuatan yang sedang berubah menimbulkan gerakan kebangkitan ulama yang menentang otoritas kaum elite priyayi. Bahkan semenjak konsolidasi mataram pada awal abad ke-17 ,aristokrasi jawa telah dibagi dua kelompok priyayi yang
memerintah ,yang terkondisikan oleh nilai-nilai jawa, dan kiayi yang mewakili komunitas yang setia terhadap
keyakinan agama islam. Dengan
masuknya kelompok aristokrasi
priyayi ke dalam pemerintahan kolonial
Belanda , kiayi menjadi satu-satunya
perwakilan masyarakat jawa yang independen . otoritas ,jumlah, dan
pengaruh mereka sangat luas, sehingga meningkatkan kesadaran mereka terhadap
identias muslim , dan menjadikan mereka
mengenal perlawanan dunia muslim terhadap kolonialisme.[15]
Akibat Kolonial
rakyat kehilangan kepemimpinan, sementara penguasaan colonial sangat
menghimpit kehidupan mereka. Hasil bumi rakyat dijadikan untuk kepentingan
pemerintah colonial belanda. Penggusuran dan perampasan tanah milik rakyat
untuk kepentingan pemerintah semakin digalakkan. Rakyat ketakutan dan kesulitan
menghadapi penindasan tersebut. Ini terjadi sampai abat ke-14.[16]
Dalam kondisi
seperti ini rakyat mencari pemimpin nonformal (para ulama, kiai,atau
bangsawan) yang masih memperhatikan mereka. Puasat kekuatan politik berpindah
dari istana keluar, Yaitu ke wilayah-wilayah yang jauh dari istana, salah satu
ke pasantren-pasantren yang kemudian menjadi basis perlawanan.
Keterlibatan para ulama dalam politik hamper sama tuanya
dengan sejarah peradaban islam. Hal ini disebabkan islam sebagai sebuah agama
tidak hanya mengajarkan tata cara ibadah untuk kecendrungan akhirat belaka. Tetapi juga mengajarkan tata
cara bermuamalah,berintraksi social dalam urusan dunia. Islam banyak
mengajarkan nilai-nilai dan norma-norma dalam masyarakat dan bernegara, baik
dalam lingkup local maupun internasional.Ulama, atas nama islam, menggalang
kekuatan untuk melawan penjajah. Terjadilah perang jawa (1825-1830) dipelopori
pangeran Diponegoro didampingi kiai Mojo
(1873-1904) walaupun perang besar ini berakhir dengan kekalahan, tetapi
peran polotik ulama telah menjadi pelajaran politik umat islam Indonesia.
Penggalangan atas nama islam telah memupuk cinta tanah air dan anti Kolonial.[17]
Ketika penjajah belanda semakin meluas,maka muncullah
gerakan protes petani dipimpin ulama lokal untuk melawan Belanda dan
pembantu-pembantu raja-raja tradisional yang dianggap kafir.para petani dan
ulama lokaln menganggap gerakan itu sebagai perang suci ,perang terhadap kafir.
Di antara gerakan protes petani local yang dianggap terbesar adalah yang
terjadi di Cilegon tahun 1888 M.
Faktor pendorong terjadinya gerakan-gerakan protes ini
,antara lain situasi Kolonial yang
menghimpit kehidupan rakyat,kondisi yang brtentangan dengan kaidah-kaidah agam
islam,pelarangan umat islam melakukan ibadah,tindakan yang
semena-mena,penggusuran tanah milik rakyat yang subur untuk tanaman tebu,kerja
paksa,pajak yang memeras,penderitaan rakyat akibat ketidak adilan dan pemerasan
tuan tanah,penumpukan rasa dendam,rasa kecewa,tekanan ekonomi yang sangat berat
yang kemudian dipersatukan dengan semangat jihad menjadi gerakan fanatic dan radikal.
Sepanjang abad ke-18 di Sumatra penuh pergolakan. Ulama
dan pedagang arab berdatangan menimbulkan suasana baru dalam kehidupan
keagamaan karena mulai munculnya cikal bakal repormasi ortodoks (pemurnian
keagamaan). Pada saat itu berperang kerajaan Riau yang berakhir ketika gabungan
Riau-Johor dikalahkan Belanda. Disusul Palembang besar dan menjadi pusat
pengembangan islam, ditandai oleh Insititusionalisme ketentuan fikih kedalam
struktur kerajaan. Di abad ini penyebaran tarekat samaniyah juga semakin marak,
tarekat yang kelak mengadakan perlawanan terhadap Belanda yang berusaha
menguasai isatana Palembang.[18]
Walaupun perang ini kalah tetapi islam makin berkembang
dibawah pimpinan yang menyingkir dari kerajaan Belanda seperti sisa-sisa tentara
perang padri di pedalaman tanah batak menjadi sebagian suku batak memeluk
islam. Sebagian sisa-sia pelarian perang padre yang lain ada yang pergi ketimur
tengah, bermukim disana sambil menuntut ilmu sehingga terkena pengaruh
reformasi islam internasional. Diantara mereka adalah Ahmad Khatib Alming
kabawi, Djamil Djambek, Thaharir Djalaluddin disusul kemudian oleh Haji Abd.
Karim (Haji Rasul-Ayahanda Hamkah). [19]
Para tokoh diatas menyadari bahwa mereka tidak akan
mungkin berkompetisi dengan Belanda dan penetrasi Kristen oleh karena itu perlu
diadakan perubahan-perubahan yang walaupun berasal dari pengaruh colonial sendiri
yaitu berjuang melalui organisasi-organisasi, baik bidang social, pendidikan
maupun politik seperti K.H.Ahmad Dahlan dijawa dengan gerakan Muhammadiyah dan
Khihajar Hasyim Asyari dengan gerakan NU (Nahdatul Ulama) semua organisasi
tersebut sama-sama ingin menjadi islam sebagai landasan ideologis dan
selanjutnya menjadikan islam sebagai perjuangan politik untuk kekuasaan
colonial.
Islam juga akan dijadikan peletak lantasan kesamaan,
pengikat persatuan, sebagaimana yang diperjuangkan oleh syarit islam (SI),
bangsa islam yang mengawali perasaan kebangsaan sampai pengertian nasionalisme
Indonesia ditemukan. Dikalangan rakyat, berkuasanya colonial dirasakan sangat
berat karena terjadinya eksploitasi hasil bumi rakyat untuk kepentingan VOC.
Dalam kondisi seperti ini rakyat bergabung dengan pemimpin nonformal kiai ulama
dan bangsawan yang menggalang rakyat untuk melawan dan berjuang atas nama
agama. Terjadilah perang fadri (1821-1837) dipelopori imam bonjol dibantu
delapan ulama, perang Aceh (1873-1904) dipimpin panglima polim yang didukung
oleh para ulama, haji dan muslim aceh.
Perlawanan yang
dilakukan umat islam terhadap penjajahan belanda:
1.
Perang
faderi di Minang Kabau
Gerakan yang dikenal
dengan nama paderi ini dilakukan melalui
ceramah di surau dan masjid.perang ini
terjadi 21 Februari 1921 setelah
perjanjian kaum adat dan Belanda di tanda tangani.
2.
Perang
dipenegoro
Perang ini merupakan perang terbesar yang di hadapi colonial
Belanda . selain hidup rakyat yang di tindas belanda ,latar belakang terjadinya
perang ini adalah rencana pemerintah
belanda untuk membuat jalan dan
menerobos tanah milik pangeran
dipenogoro dan harus membongkar makam
keramat.tujian perang ini adalah untuk
mencapai cita-cita luhur
mendirikan masyarakat yang
bersendikan agama islam, mengembalikan
keluhuran adat jawa yang bersih
dari pengaruh barat.[20]
3.
Perang
banjar masin
Perang ini dilatarbelakangi oleh campur tangan belanda dalam
menentukan siapa yang akan menjadi raja muda sebagai pengganti sultan, apabila
sultan berkuasa wafat.
4.
Perang
aceh
Awal mula penyebap perang ini adalah pada tanggal 30 Maret
1857 di tandatangani kontrak antara aceh dengan pemerintahan Belanda yang berisi kebebasan perdagangan .kontrak
ini memberi kebebasan pada belanda disana
dan di perkuat Traktat siak yang ditanda tangani pada tahun itu juaga.
Sultan Aceh menentang isi traktat tersebut karna bertentangan dengan hegemoni Aceh.[21]
C. Masa Penjajahan
Jepang
Sebagai penjajah Jepang jauh lebih kejam dari Belanda. Jepang
merampas semua harta milik rakyat untuk kepemtingan perang sehingga rakyat mati
kelaparan. Pada masa Belanda ada istilah kerja rodi maka dizaman Jepang menjadi
romusa jika kerja rodi masih bekerja paksa dikampung sendiri maka romusa
dikirim jauh sampai kepedalaman Burma dan Thailand untuk membangun jalur kereta
api yang menhhubungkan Birma-Bangkok melalui Konbury. Para romusa diperlakukan
sangat buruk makan kurang smentaradipaksa kerja dengan keras. Diantara tiga
ratus ribu romusa yang dikirim keluar negeri hanya tujuh puluh ribu yang pulang
dengan selamat setelah perang selesai.[22]
Islam akan dihapus dan diganti
dengan agama Shinto oleh karena itu bahasa dan aksar arab dilarang, walaupun
nanti larangan itu dicabut ketika jepang sudah kepepet hampir kalah. Jepang
sebenarnya lebih kafir daripada Belanda. Jepang mempunyai tujuan untuk
me-Nippon-kan Indonesia kalau Belanda menjadikan bangsa Indonesia Irlander
penduduk kelas dua Jepang ingin menghilangkan kebangsaan Indonesia menjadi
Nippon. Untuk mempercepat usaha itu Jepang melakukan cara-cara sebagai berikut:
1. Membersihkan kebudayaan barat, kebudayaan islam diganti
dengan kebudayaan Jepang. Langkah yang pertama menjadikan bahasa Jepang sebagai
bhasa resmi
2. Mengubah system pendidikan. Jepang mengetahui bahwa jalur
yang paling inti untuk me-Nippon-kan bangsa Indonesia adalah melalui
pendidikan.
3. Membentuk barisan pemuda. Jepang berusaha untuk melatih dan
memobilisasi pemuda dan santri dengan latihan perang senjata bamboo runcing
4. Memobilisasi pemimpin islam. Islam
adalah alat yang paling efektif berkomunikasi dengan masyarakt oleh karena itu
jepang memanfaatkan untuk menyebarkan kebudayaanya.
5. Membentuk
organisasi baru. Untuk kepentingan Nipponosasi jepang membtuhkan suatu
organisasi muslim yang menghimpun muslim Indonesia. Organisasi buatan jepang
itu adalah sebagai berikut:
a. Shumubu
(Departemen agama buatan Jepang, dibentuk Maret 1942. pada tanggal 1 April 1944
disetiap karesidenan di Jawa di buka kantor wilayah dengan nama Shumuka. Tanggal
1 oktober 1943 Husin Djadiningrat diangkat menjadi Shumubu. Tanggal 1 Agustus
1944 digantikan oleh Kh Hasyim Asyari.
b. Majelis
Suro Muslimin Indonesia dibentuk tanggal 24 oktober 1943.[23]
Ternyata bangsa Indonesia cepat sadar bahwa jepang
mempunyai tujuan yang sangat buruk ingin me-Nippon-kan bangsa Indonesia. Umat
Islam Indonesia juga sadar bahwa Jepang ingin menghapus islam menggantinya
dengan sintoisme. Walaupun telah dilatih denan kemusyirikan, tetapi akhirnya
muslim Indonesia melawan baik dengan keras maupun dengan lunak.
Jepang juga menyadari bahwa muslim Indonesia beserta ulamanya bukanlah suatu yan mudah dibentuk
dan diarahkan . oleh karena itu jepang mencoba untuk meminta maaf dan jepang
berjanji untuk mengkaji islam lebih mendalam. Jepang meminta maaf karena pada
sat itu jepang membutuhkan bantuan bangsa Indonesia untuk memenangkan perang
karena jepang mulai terdesak di fasifik. Oleh Karen aitu umat islam tetap pada
pendiriannya tidak percaya pada jepang. Sikap umat isla terbagi dua, pertama sikap
keras daengan perang diperlihatka oleh ulama-ulama secara individual kemudian
sikap dipelihatkan oleh pemimpin-pemimpin muslim melalui organisasi- organisasi.[24]
Selanjutnya sikap para pemimpin muslim dan para ulama yang sudah
diarahkan jepang untuk membentuk organisasi buatan jepang dengan maksud dapat
menjadi alat pencapai tujuannya ternyata telah bertolak belakang jepang. Kelak
gerak organisasi itu akan menyelamatkan islam dari kerusakan. Dalam konferensi
yang diadakan dijakarta tanggal 12 oktober 1944 keluar pernyataan mempersiapkan
masyarakat muslim Indonesia agar siap menerima kemerdekaan.[25]
Pernyataan ini diikuti oleh cabang-cabang Indonesia. Pada
tanggal 21 oktober 1944, pemuda muslim memutuskan mempersiapkan diri dengan
sungguh—sungguh dan sukarela untuk berjuang melahirkan kemerdekaan Indonesia
bangsa dan agama. Tindakan jepang yang kejam ternyata ada sisi positifnya bagi
muslimin Indonesia :
1. Mendamaikan antara kaum “Maju”
(pembaru) dengan kaum bertahan (tradisionalis)
2. Memberikan kesempatan kepada ulama
untuk mengalami pendidikan politik dengan menjadi pemimpin suatu organisasi
besar yang menyeluruh yang didukung oleh berbagai macam aliran, telah
memberikan pengalaman baru bagi para ulama.
3. Memberikan kesempatan kepada ulama untuk mejadi
administrator, sehingga mendapat pengalam baru sehin ga terlibat dalam
perundang-undangan, sehinnga sikap yang hanya diliat dari sikap fikih saja
telah berubah menjadi cakrawala yang lebih luas.
4. Mempersatukan
system pendidikan
5. Memberikan
latihan dan keterampilan serta mempersiapkan diri menjadi kader-kader bangsa
6. Mempersatukan
bahasa Indonesia menjadi bahasa nasional
7. Membemtuk organisasi masumi juga isbullah yang menjadi salah
satu cikal bakal TNI Mendirikan sekolah tinggi islam.[26]
2.2. PENDIDIKAN
ISLAM PADA ZAMAN KOLONIAL
A.
Pendidikan
Zaman Belanda
Sejak dari zaman
belanda VOC kedatangan mereka di Indonesia
sudah bermoyif ekonomi,politik dan agama,dalam hak actroi VOC terdapat
saru pasal yang berbunyai “ badan ini harus berniaga di Indonesia
dan bila perlu boleh perperang. Dan harus memperhatikan perbaikan agama
Kristen dengan mendirikan sekolah”.[27]
Terhadap pendidikan islam, semula Belanda (tahun 1610
M)bersikap membiarkan saja menurut system kerajaan Mataram.Namun, mereka lambat
laun mengubah pendidikan Islam secara sedikit dei sedikit.Sejak perjanjian
Giyanti (tahun 1755 M), Belanda mulai berusaha melumpuhkan pengaruh Islam,
dimulai didaerah yang sudah dikuasai di Yogya dan Surakarta.[28]
.Setelah Diponegoro ditaklukkan, Belanda melanjutkan
usahanya untuk membinasakan organisasi resmi pendidikan Islam. Penghulu , Naib,
Modin dibebaskan dari kewajiban pendidikan dan pengajaran Islam.Penghulu tidak
lagi menjadi hakim agama, cukup Naib saja yang menjadi juru nikah, talak, dan
rujuk, dan semuanya berada dibawah pengawasan Belanda. Karena usaha-usaha
Belanda itu , pendidikan islam lama kelamaan menjadi mundur dan makin terdesak
oleh pendidikan barat.
Ketika Van den Bosch menjadi Gubernur Jendral di Jakarta
tahun 1831, ia mengeluarkan kebijaksanaan bahwa sekolah gereja dianggap
diperlukan sebagai sekolah pemerintah Belanda. Departemen yang mengurus
pendidikan dan keagamaan dijadikan satu. Di setiap daerah keresidenan didirikan
satu sekolah agama Kristen. Ketika Van den Capellen tahun 1819 merencanakan
berdirinya sekolah dasar bagi penduduk
pribumi agar dapat membantu pemerintahan Belanda.
Dalam surat edarannya kepada para Bupati berisi :
“Dianggap penting untuk secepatnya mengadakan peraturan pemerintah yang
menjamin merata kemampuan membaca dan
menulis bagi penduduk pribumi agar mereka dapat menaati undang undang dan hukum
Negara.[29]
Dari surat edaran
diketahui bahwa Belanda mengaggap pendidikan agama islam yang diselenggarakan
di pondok pondok pesantren , mesjid, musallah, dianggap tidak membantu
pemerintah Belanda.
Kemunduran pendidikan Islam itu sampai puncaknya sebelum
tahun 1900 Masehi yang meliputi seluruh Indonesia. Bahkan pada tahun 1882
Belanda membuat badan khusus yang bertugas mengawasi kehidupan beragama dan
pendidikan islam. Tahun 1925 Belanda mengeluarkan peraturan lebih ketat, bahwa
tidak semua kiai boleh memberikan pelajaran mengaji. Peraturan itu dibabkan
tumbuhnya organisasi pendidikan Islam, seperti muhammadyah, syarikat islam, al
irsyad, nahdatul wathan, dan lain – lain.Tahun 1932 keluar pula peraturan yang
dapat memberantas dan menutup madrasah dan sekolah yang tidak izinnya yang
disebut Ordonisasi Sekolah Liar. Peraturan ini dikeluarkan setelah muncul
gerakan nasionalisme –Islamisme pada tahun 1928 berupa Sumpah Pemuda. Selain
itu sekolah Kristen yang banyak mendapat kritikan dari rakyat sekitar, juga
untuk menjaga dan menghalangi masuknya pelajaran agama di sekolah umum yang
kebanyakan muridnya beragama Islam, maka pemerintah belanda mengeluarkan poeraturan yang disebut “Netral
Agama”.[30]
Kondisi
demikian terjadi juga di Timur Timur ditandai dengan munculnya ide Pan
Islamisme yang dirintis oleh jamaluddin al Afghani di mesir dan gerakan
Salafiyah Wahhabiah di Hijaz. Oleh karena itu, santri-santri Indonesia banyak
yang belajar ke hijaz dan Mesir. Ketika mereka kembali ke tanah air mereka
mengajarkan ilmu-ilmu agma dan bahasa arab yang lebih tinggi mutunya dari
sebelumnya.Dengan demikian berkat usaha mereka ilmu agama semakin tinggi. Pada
masa perubahan itu boleh dikatakan pelajaran agama di Indonesia hampir sama dengan yang di makkah.[31]
Susunan pendidikan islam pada masa perubahan adalah
sebagai berikut :
1.
Pengajian
alquran masih sama sebelum tahun 1900.
2.
Pengajian
kitab terdiri dari :
a.
Menagaji
nahwu dengan memakai kitab Ajrumiyah Asymawi.Syaikh kholod, Azhari,Alfiyah,
Asymuni, dan lain-lain
b.
Sharaf :
Al-Kailani,Taftazani
c.
Fiqih :
Fath al-Qarib,Fath al-Muin,Fath al-wahab Mahalli,kadang-kadang sampai Tuhfah dan Nihayah.[32][39]
Masa perubahan di Jawa sejak tahun 1900 dimulai oleh
K.H.Hasyim Asyari membuka Pasantren Tabuireng
di Jomba dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi yang meluluskan
banyak ulama.Pada tahun 1959 Pondok ini mempunyai tingkatan sebagai berikut:
1. Madrasyah
Ibtidaiyah enam tahun,mata pelajarannya 70 persen agama,30 persen umum.
2. Tsanawiyah
tiga tahun,untuk pelajarannya 70 persen agama.30 persen umum
3. Mua’allimin
lima tahun
4. Bagian
pasantren menurut system yang dilakukan
oleh almarhum K.H. Hasyim Asy’ari.
Karna
pengaruh politik etis pemerintah Belanda
menetapkan kebijaksanaan pendidikan dan
merialisasikannya dalam berbagai program pendidikan dasar untuk warga pribumi.
Namaun mereka membedakan program tersebut ke beberapa bagian ,yaitu sebagai
berikut:
1. Sekolah dasar kelas satu (De Eerste
Klasse School) untuk kalangan para pemuka ,tokoh-tokoh,dan orang-orang
terhormat bumi putra.
2. Sekolah dasar kelas dua (De Tweede
Klasse School) untuk anak-anak bumi putra biasa.[33]
Kehadiran sekolah-sekolah Belanda ini mendapat kecaman
sengit kaum ulama dan santri karena
pendidikan yang didirikan Belanda itu menjadi alt penetrasi kebudayaan Barat
yang akan melahirkan intelektual pribumi sekuler dan menjadikan umat islam jauh dari agamanya.
Oleh sebap itu lahirlah pembaharuan
pendidikan islam .Dengan demikian perubahan pendidikan Indonesia sudah dimulai
sejak zaman Kolonial Belanda. Hal ini ditandai dengan berdirinya organisasi-organisasi islam( seperti
Sumatra Thawalib, Jamiatul khair , Al-Irsyad, Muhammadiyah, ) yang mendirikan
sekolah-sekolah islam.[34]
B.
Pendidikan
Zaman Kolonial Jeapang
Untuk menarik dukungan rakyat Indonesia Jepang
membolahkan didirikan sekolah-sekolah agama dan pasantren-pasantren yang
terbebas dari pengawasan jepang. Jepang menempuh kebijaksanaan sebagai berikut:
1. Kantor urusan agama yang apda zaman
Belanda disebut sebagai kantor Voor
Islanistische Saken yang dipimpin oleh oriantalis Belanda diubah menjadi sumbu
yang dipimpin ulama islam sendiri , yaitu K.H.H asyim Asyari dari jombang dan
di daerah-daerah disebut sumuka.
2. Pondok
yang besar-besar mendapat kunjungan dan bantuan dari pembesar Jepang.
3. Sekolah-sekolah
negeri diberi pelajaran budi pekerti /agama .
4. Membentuk
barisan hizbullah yangb member latihan dasar kemiliteran pemuda islam
(santri-santri) dipimpin oleh K.HZainul Arifib.
5. Jepang
mengizinkan berdirinya Sekolah Tinggi Islam dipimpin oleh K.H.Wahid
Hasyim,Kahar Muzakkir, dan Bung Hatta.
6. Ulama
islam bekerja sama dengan pemimpin nasionalis membentuk barisan pembela Tanah
Air (PETA).
7. Umat
islam mendirikan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).[35]
Maksud dari pemerintahan jepang adalah agar kekuatan umat
islam dan nasionalis bias diarahkan untuk kepentingan memenangkan perang yang
dipimpin jepang.
Pada masa pemerintahan Jepang ,sekolah dasar dijadikan
satu macam yaitu sekolah dasar enam
tahun,sebenarnya Jepang mengadakan penyeragaman ini untuk memudah untuk
memudahkan pengawasan,baik dalm isi maupun oenyelenggaraannya. Ternyata
menguntungkan bagi Indonesia di kemudia hari. System pengajaran dan struktur
kurikulum ditunjukkan untuk keperluan perang Asia Timur Raya.[36]
Selain itu ,Jepang juga mengadakan latihan bagi guru-guru
di Jakarta untuk mengindoktrinasi mereka
dalm Hakko Iciu ( kemakmuran bersama). Para peserta latihan kembali ke daerah
masing-masing ,mengadakan latihan untuk meneruskan hasil yang mereka peroleh .
Dengan demikian susunan sekolah menjadi dua bagian ,yaitu
:
1.
Sekolah
Umum terdiri dari :
Ø Sekolah rakyat enam tahun.
Ø Sekolah Menengah tiga tahun.
Ø Sekolah Menengah Tinggi tiga tahun.
2.
Sekolah
Guru terdiri dari :
Ø Sekolah Guru dua tahun.
Ø Sekolah Guru empat tahun.
Bahasa Indonesia sebagai bahasa
pengantar digunakan disemua sekolah dan menjadi mata pelajaran utama. Bahasa jepang diberikan sebagai mata
pelajaran wajib.
Sekolah yang
didirikan zaman Belanda didirikan lagi, juga sekolah sekolah suwastat seperti
sekolah agama Islam (madrasah atau pesantren), Taman Siswa, sekolah
Muhammadiyah, termasuk sekolah-sekolah yang diasuh oleh badan-badan misi atau
zending Kristen,tetapi harus diselenggarakan langsung oleh pemerintahan Jepang.
2.3. PERJUANGAN
KEMERDEKAAN UMAT ISLAM
A.
Masa Kolonial Belanda
Nasionalisme dalam
pengertian politik, baru muncul setelah , H. Samanhudi menyerahkan tumpuk
pemimpinan SDI pada bulan Mei 1912 kepada HOS Tjokroaminoto yang mengubah nama
dan sifat organisasi serta memperluas ruang geraknya. SI pada dekade pertama adalah organisasi politik besar yang merekrut
anggotanya dari berbagai kelas dan aliran yang ada di Indonesia. Waktu itu
idiologi bangsa memang belum beragam , semua bertekad ingin mencapai
kemerdekaan. Idiologi mereka adalah persatuan dan anto Kolonialisme.
Tjokoaminoto dalam pidatonya pada kongres nasional Sarekat Islam yang berjudul
“Zulfbetuur”tahun 1916 di Bandung mengatakan :
Tidak pantas
lagi Hindia (Indonesia, pen.) diperintah oleh negeri Belanda , bagaikan tuan
tanah yang menguasai tanah-tanahnya. Tidak pada tempatnya, menganggap hindia
sebagai seekor sapi perahan yang hanya diberi makan demi susunya.tidaklah
pantas, untuk mengagap negri ini sebagai tempat kemana orng berdatangan hanya
untuk memperoleh keuntungan dan sekarang sudah tidak pada tempatnya lagi bahwa
penduduknya,terutama anak negrinya sendiri, tidak mempunyai hak tutur bicara
dalam soal-soal pemerintahan yang mengatur nasib mereka.[38]
Demikianlah
SI memperjuangkan pemerintahan sendiri bagi pendudukan Indonesia, bebas dari
pemerintahan Belanda.Namun dalam perjalanan sejarahnya dikalangan tokoh-tokoh
dan organisasi-organisasi pergerakan, mulai terjadi perbedaan-perbedaan taktik
dan program; golongan revolusioner berhadapan dengan golongan moderat ; dan
politik koperasi tidak sejalan denagn politik non-koperasi. Puncak perbedaan
itu terjadi di dalam tubuh SI itu sendiri, yang memunculkan kekuatan baru
dengan idiologinya sendiri, komunisme, yang dikenal dengan partai komunisme Indonesia (PKI) , terjadi
secara besar-besaran pada tahun 1923.[39]
Dengan demikian, terdapat tiga kekuatan
politik yang mencerminkan tiga aliran idiologi: Islam , komunisme dan
nasionalis sekuler. Perpecahan diantara ketiga golongan tersebut, menurut
Deliar Noer ,disebapkan oleh pendidikan yang mereka terima bersifat Barat.
Golongan sekuler yang ditimbulkan oleh pendidikan itu kemudian terpercah
menjadi dua, komunis dan nasionalis sekuler. Proses islamisasi damai di
Indonesia yang mengkompromikan ajaran islam dengan nilai – nilai budaya, telah
melahirkan tiga golongan : santri, abangan, priyayi. Ideologi islam didukung
oleh golongan santri, komunisme oleh abangan dan nasionalis oleh priyayi.
Ketiga aliran tersebut, terlibat dalam konflik ideologis yang cukup keras.
Dalam suasana konflik semacam itu, SI semakin hari mengalami kemerosotan,
sementara partai partai nasionalis sekuler berkembang dengan pesat.
Di lingkungan islam terbentuk juga
kesatuan forum dalam bentuk Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI), tetapi forum
ini lebih menekankan segi agama, mejelis ini berdiri tahun 1938. Usaha-usaha
untuk mempersatukan kembali partai-partai politik dengan aliran-aliran ideologi
itu, selalu berakhir dengan kegagalan. Hal itu karena Belanda tidak pernah
member ruang gerak bagi gerakan kebangsaan dan tidak pula bersedia mengadakan
dialog. Sementara itu konflik ideology terus berkembang dan kadang-kadang
mengeras. Golongan nasionalis netral agama pernah menuduh islam sebagai pembawa
perpecahan. H. Agus Salim dituduh menjerumuskan SI menjadi partai pendeta yang
mencecerkan kepentingan social dan ekonomi rakyat untuk agama. Tuduhan lain,
islam arab merupakan suatu bentuk imperialism yang tidak kalah jeleknya dari
Belanda.[40]
Tuduhan-tuduhan tersebut dapat dijawab oleh HOS
Tjokroaminoto, H.Agus Sali, A.Hasan, dan M.Natsir. Mereka adalah tokoh-tokoh
yang terkenal yang dikatakan sebagai perumus-perumus nasionalisme islam di
Indonesia. Di Sumatra Barat masyarakat islam mampu memadukan antara islam dan
nasionalisme, yaitu melalui persatuan muslimin Indonesia (Permi) yang dipimpin
oleh Muchtar Luthfi yang baru menyelesaikan studinya di Kairo, Mesir. Permi
adalah organisasi yang berdasarkan islam dan kebangsaan. Sayangnya Permi tidak
berusia panjang.
Di awal tahun 1940-an, Soekarno yang pernah mendalami
ajaran islam, mencoba mendamaikan konflik-konflik itu dengan berusaha mengutip
pendapat pemikiran-pemikiran pembaru di Negara—negara islam timur tengah,
termasuk Turki. Namun, konsep sebagaimana yang dipraktekkan oleh Kemal Attaturk
di Turki.
B.
Masa Kolonial Jepang
Kemunduran progresif yang dialmi
partai-partai islam seakan mendapatkan dayanya kembali setelah Jepang datng
menggantikan posisi Belanda. Jepang berusaha mengakomodasi dua kekuatan, Islam
dan nasionalis sekuler , ketimbang pimpinan tradisional (raja dan bangsawan lama). Menurut jepang organisasi
islamlah yang mempunyai massa yang patuh dan dengan pendekatan agama penduduk
Indonesia bisa di mobilisasi. Oleh karna itu organisasi-organisasi
non-islam di bubarkan dan organisasi-organisai besar islam seperti
Muhammadiyah,NU, MIAI dan Masyumi diperkenankan kembali meneruskan kegiatannya.[41]
Pada masa penjajahan jepang semua aktifitas yang berhubungan
dengan islam diperbolehkan, walaupun tujuan Jepang untuk menyiapkan pasukan
untuk membantunya. Permohonan masyumi untuk membentuk Hizbullah di terima oleh
pemerintah penduduk Jepang. Hizbullah merupakan sebuah wadah kemileteran bagi
para santri. Bahkan ,tentara Pembela Tanah Air (PETA) Juga di dominasi oleh
golongan santri.
Bagi golongan nasionalis dibentuk lembaga-lembaga baru,
seperti Gerakan 3 A (Nippon Cahaya, Nippon Pelindung Asia, Nippon Pemimpin
Asia) yang hanya berumur beberapa bulanSejak mei 1942 dan Poesat Tenaga Rakyat
(Poetra) yang didirikan bulan maret 1943. Usaha pengembangan poetra baru
dimulai April 1943, sebagai pemimmpin tertingginya adalah Soekarno dibantu oleh
Hatta,Ki Hajar Dewantara, dan K.H Mas Mansur. Dari empat serangkai
itu,tercermin bahwa tokoh nasionalis lebih dominan dalam gerakan kebangsaan
daripada golongan islam.[42]
Jepang kemudian menjanjikan kemerdekaan Indonesia dengan
mengeluarkan maklumat Gunseikan n0.23/29
April 1945, tentang pembentukan Badan Penyelidik Usaha-uasa Persiapan
Kemerdekaan Indonesia( BPUPKI). Berbeda dengan stuasi sebelumnya , yang
kalangan islam mendapat pelayanan lebih besar dari Jepang,yang mendominasi
keanggotaan BPUPKI adalah golongan nasionalis sekuler yang ketika itu disebut
golongan kebangsaan. Didalam forum inilah sukarno menciptakan pancasila.
Setelah itu dialog resmi ideologis antara dua golongan
terjadi dengan terbuka dalam suatu forum.
Pnitia Sembilan , forum ini membahas tentang UUD. Lima orang mewakili golongan nasionalis
sekuler ( Sukarno, Hatta, M.Yamin, Maramis dan subardjo) dan empat orang
lainnya mewakili islam (Abdul Kahar Muzakkir,
Wahid Hasyim, Agus Salim, dan Abikusno Tjokrosujoso. Kompromi yang d
hasilkan panitia ini dikenal dengan
piagam Jakarta. Pada prinsip ketuhanan “ dengan kewajiban menjalankan syariat
islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Tetapi , pada saad diadakan sidang pleno,
piagam Jakarta ternyata tidak memuaskan kedua belah pihak . namun akhirnya berkat Agus Salim dan Sukarno, piagam Jakarta
diterima sebagai mukaddimah konstitusi.[43]
C. Walisongo
Walisongo
atau Walisanga dikenal sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke
14. Mereka tinggal di tiga wilayah penting pantai utara Pulau Jawa, yaitu
Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, dan
Cirebon di Jawa Barat.
Ada
beberapa pendapat mengenai arti Walisongo. Pertama adalah wali yang sembilan,
yang menandakan jumlah wali yang ada sembilan, atau sanga dalam bahasa Jawa.
Pendapat lain menyebutkan bahwa kata songo/sanga berasal dari kata tsana yang
dalam bahasa Arab berarti mulia.
Pendapat
lain yang mengatakan bahwa Walisongo adalah sebuah majelis dakwah yang pertama
kali didirikan oleh Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) pada tahun 1404 Masehi
(808 Hijriah).[1] Para Walisongo adalah pembaharu masyarakat pada masanya.
Pengaruh mereka terasakan dalam beragam bentuk manifestasi peradaban baru
masyarakat Jawa, mulai dari kesehatan, bercocok-tanam, perniagaan, kebudayaan,
kesenian, kemasyarakatan, hingga ke pemerintahan.
Walisongo
berarti sembilan orang wali. Mereka adalah:
1.
Maulana Malik Ibrahim:
Maulana
Malik Ibrahim, atau Makdum Ibrahim As-Samarkandy diperkirakan lahir di
Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14. Beliau meninggal dunia pada
tahun 1419. Dikenali juga sebagai Syekh Magribi. "Kakek Bantal"
adalah juga sebutan oleh penduduk Jawa. Ia bersaudara dengan Maulana Ishak,
ulama terkenal di Samudra Pasai yang juga merupakan ayah dari Sunan Giri (Raden
Paku). Ibrahim dan Ishak adalah anak dari seorang ulama Persia bernama Maulana
Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. Maulana Jumadil Kubro diyakini
sebagai keturunan ke-10 dari Syayidina Husein iaitu cucu Nabi Muhammad SAW.
Selama tiga belas tahun sejak tahun 1379 Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim
di Campa atau sekarang dikenali Kamboja (Cambodia). Ia mempunyai seorang isteri
dari putri raja dan mendapat dua orang anak iaitu Raden Rahmat yang dikenal
sebagai Sunan Ampel dan Sayid Ali Murtadha atau Raden Santri.
2.
Sunan Ampel:
Sunan
Ampel adalah anak sulung Maulana Malik Ibrahim. Nama asalnya adalah Raden
Rahmat dan dilahirkan di Campa pada 1401 Masehi. Di daerah Ampel atau Ampel
Denta, Surabaya (kota Wonokromo sekarang) adalah tempatnya bermukim dan
menyibarkan agama Islam. Sunan Ampel datang ke Pulau Jawa pada tahun 1443
bersama adiknya iatu Sayid Ali Murtadho. Sebelum ke Jawa pada tahun 1440,
mereka singgah dahulu di Palembang. Setelah tiga tahun di Palembang, mereka
melabuh dan berhijrah ke daerah Gresik. Seterusnya mereka ke Majapahit untuk
menemui ibu saudaranya, seorang putri dari Campa yang bernama Dwarawati. Ibu
saudaranya ini telah dipersunting oleh salah seorang raja Majapahit beragama
Hindu bergelar Prabu Sri Kertawijaya. Sunan Ampel menikah dengan putri seorang
adipati di Tuban. Dari perkawinannya itu ia dikurniakan beberapa orang anak
lelaki dan perempuan. Diantaranya yang menjadi penerus tugas-tugas dakwah
adalah Sunan Bonang dan Sunan Drajad. Ketika Kesultanan Demak iaitu 25 kilometer
arah selatan kota Kudus hendak didirikan, Sunan Ampel turut bersama mendirikan
kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Pada tahun 1475, Sunan Ampel telah
mengesyurkan supaya Raden Fatah iaitu anak lelaki Prabu Brawijaya V (Raja
Majapahit) untuk menjadi Sultan Demak.
3.
Sunan Giri:
Sunan
Giri lahir di Blambangan pada tahun 1442. Memiliki beberapa nama panggilan
iaitu Raden Paku, Prabu Satmata, Sultan Abdul Faqih, Raden 'Ainul Yaqin dan
Joko Samudra. Ia dimakamkan di desa Giri, Kebomas, Gresik.
Terdapat
beberapa silsilah Sunan Giri yang berbeza. Ada pendapat mengatakan ia adalah
anak Maulana Ishaq, seorang mubaligh yang datang dari Asia Tengah. Maulana
Ishaq diceritakan menikah dengan Dewi Sekardadu, iaitu putri dari Menak
Sembuyu, penguasa wilayah Blambangan pada masa-masa akhir kekuasaan Majapahit.
Pendapat lainnya menyatakan bahwa Sunan Giri juga merupakan keturunan
Rasulullah SAW iaitu melalui keturunan Husain bin Ali, Ali Zainal Abidin,
Muhammad al-Baqir, Ja'far ash-Shadiq, Ali al-Uraidhi, Muhammad al-Naqib, Isa
ar-Rummi, Ahmad al-Muhajir, Ubaidullah, Alwi Awwal, Muhammad Sahibus Saumiah,
Alwi ats-Tsani, Ali Khali' Qasam, Muhammad Shahib Mirbath, Alwi Ammi al-Faqih,
Abdul Malik (Ahmad Khan), Abdullah (al-Azhamat) Khan, Ahmad Syah Jalal
(Jalaluddin Khan), Jamaluddin Akbar al-Husaini (Maulana Akbar), Maulana Ishaq,
dan 'Ainul Yaqin (Sunan Giri). Umumnya pendapat tersebut adalah berdasarkan
riwayat pesantren-pesantren Jawa Timur dan catatan nasab Sa'adah BaAlawi
Hadramaut. Sunan Giri merupakan anak dari Maulana Ishaq, seorang mubaligh Islam
dari Asia Tengah, dengan Dewi Sekardadu, putri Menak Sembuyu penguasa wilayah
Blambangan pada masa-masa akhir Majapahit.
4.
Sunan Bonang:
Beliau
adalah anak Sunan Ampel yang juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah
Raden Makdum Ibrahim. Dilahirkan pada tahun 1465. Ibunya bernama Nyi Ageng
Manila, seorang puteri adipati di Tuban. Sunan Bonang belajar agama dari
pesantren ayahnya di Ampel Denta. Setelah dewasa, ia berkelana untuk berdakwah
di berbagai pelosok Pulau Jawa. Mula-mula ia berdakwah di Kediri, yang majoriti
masyarakatnya beragama Hindu. Di sana ia mendirikan Masjid Sangkal Daha. Ia
kemudian menetap di Bonang, di sebuah desa kecil di Lasem, Jawa Tengah sejauh
15 kilometer ke timur kota Rembang. Di desa itu ia membangun tempat pesujudan,
zawiyah atau pesantren yang kini dikenali dengan nama Watu Layar. Ia kemudian
dikenal pula sebagai imam resmi pertama Kesultanan Demak, bahkan sempat menjadi
panglima tertinggi. Meskipun demikian, Sunan Bonang tidak pernah menghentikan
kebiasaannya untuk berkelana ke daerah-daerah terpencil dan sukar untuk
didakwahkan seperti di Tuban, Pati, Madura dan sehingga ke Pulau Bawean. Pada
tahun 1525 beliau meninggal dunia di Pulau Bawean. Jenazahnya dimakamkan di
Tuban iaitu di sebelah barat Masjid Agung.
5.
Sunan Drajad:
Sunan
Drajat dilahirkan pada tahun 1470. Namanya semasa kecil adalah Raden Qasim,
kemudiannya digelar Raden Syarifudin. Dia yang terkenal dengan kecerdasannya
adalah anak dari Sunan Ampel dan bersaudara dengan Sunan Bonang. Sunan Drajat
mendirikan pesantren Dalem Duwur di desa Drajat, Paciran, Lamongan.
Setelah
menguasai pelajaran dalam bidang agama islam, beliau menyebarkannya di desa
Drajad di kecamatan Paciran. Tempat ini diberikan oleh kerajaan Demak. Ia
digelar Sunan Mayang Madu oleh Raden Patah pada tahun 1442/1520 masehi. Makam
Sunan Drajat boleh ditemui atau dilawati dari Surabaya ataupun Tuban melalui
Jalan Dandeles (Anyer - Panarukan), dan boleh juga melalui Lamongan.
Setelah
pelajaran Islam dikuasai, beliau mengambil tempat di Desa Drajat wilayah
Kecamatan Paciran Kabupaten Daerah Tingkat II Lamongan sebagai pusat kegiatan
dakwahnya. Beliau menguasai kerajaan Demak selama 36 tahun.
Sebagai
Wali penyebar Islam yang terkenal, beliau sangat perihatin dengan rakyat miskin
dengan terlebih dahulu mengusahakan kesejahteraan sosial dan seterusnya
memberikan pemahaman tentang ajaran Islam. Motivasinya lebih ditekankan pada
etos kerja keras, menderma dan sedekah bagi membenteras kemiskinan dan
menciptakan kemakmuran.
6.
Sunan Kalijaga:
Sunan
Kalijaga adalah "wali" yang paling banyak disebut oleh masyarakat
Jawa. Dilahirkan pada tahun 1450 dari bapanya yang bernama Arya Wilatikta iaitu
Adipati Tuban berketurunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Ketika
itu Arya Wilatikta telah menganut agama Islam. Nama semasa kecil Sunan Kalijaga
adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya,
Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman. Terdapat berbagai versi
mengenai asal-usul nama Kalijaga yang digunakannya. Masyarakat Cirebon
berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan
Kalijaga memang pernah bermukim di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan
Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk
berendam di sungai (kali) atau "jaga kali". Namun ada yang menyebut
istilah itu berasal dari bahasa Arab "qadli dzaqa" yang menunjukkan
statusnya sebagai "penghulu suci" kesultanan. Semasa hidupnya Sunan
Kalijaga mencapai umur lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa
akhir kekuasaan Majapahit yang berakhir pada tahun 1478, Kesultanan Demak,
Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546
serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati.
7.
Sunan Gunung Jati:
Sunan
Gunong Jati dilahirkan pada tahun 1448. Ibunya adalah Nyai Rara Santang iaitu
putri dari raja Pajajaran, Raden Manah Rarasa. Ayahnya pula adalah Sultan
Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir berketurunan Bani Hasyim dari
Palestin. Syarif Hidayatullah mendalami ilmu agama sejak berusia 14 tahun dari
para ulama Mesir. Ia sempat berkelana ke berbagai negara. Setelah berdirinya
Kesultanan Bintoro di Demak, dan atas restu kalangan ulama lain, ia mendirikan
Kasultanan Cirebon yang juga dikenal sebagai Kasultanan Pakungwati. Begitupun
banyak kisah yang tidak munasabah yang telah dikaitkan dengan Sunan Gunung
Jati. Diantaranya adalah bahwa ia pernah mengalami perjalanan spiritual seperti
Isra' Mi'raj dan bertemu dengan Rasulullah SAW, bertemu Nabi Khidir dan
menerima wasiat Nabi Sulaeman. Semuanya hanya mengisyaratkan kekaguman
masyarakat masa itu pada Sunan Gunung Jati.
Sunan
Gunung Jati adalah satu-satunya "wali songo" yang memimpin
pemerintahan. Sunan Gunung Jati menggunakan pengaruhnya sebagai putra Raja
Pajajaran untuk menyebarkan agama Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman
Pasundan atau Priangan. Dalam berdakwah, ia menganut kecenderungan Timur
Tengah.
8.
Sunan Kudus:
Namanya
senasa kecil adalah Jaffar Shadiq. Beliau adalah anak dari pasangan Sunan
Ngudung dan Syarifah iaitu adik Sunan Bonang, anak Nyi Ageng Maloka. Disebutkan
bahwa Sunan Ngudung adalah salah seorang putra Sultan di Mesir yang berkelana
hingga di Jawa. Di Kesultanan Demak, ia pun diangkat menjadi Panglima Perang.
Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke
berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga ke Gunung
Kidul. Cara berdakwahnya juga meniru pendekatan Sunan Kalijaga yang sangat
toleran pada budaya setempat. Cuma cara penyampaiannya lebih halus. Inilah yang
menyebabkan para wali yang lain meminta beliau berdakwah ke Kudus yang
dikatakan sangat sukar untuk ditembusi. Gaya dan caraa Sunan Kudus mendekati
masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal
ini dapat dilihat dari arkituktur masjid Kudus.
9.
Sunan Muria:
Sunan
Muria adalah anak kepada Dewi Saroh iaitu adik kandung Sunan Giri yang juga
merupakan anak Syekh Maulana Ishak, dengan Sunan Kalijaga. Nama kecilnya adalah
Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng
Gunung Muria iaitu 18 kilometer ke utara kota Kudus. Gaya berdakwahnya banyak
mengambil cara ayahnya iaitu Sunan Kalijaga. Begitupun, perbezaan dengan
ayahnya adalah Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan
jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam. Beliau bergaul dengan
rakyat jelata, sambil mengajarkan cara bercocok tanam, berdagang dan menjadi
nelayan adalah kesukaannya. Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai orang
tengah dalam sebarang konflik di Kesultanan Demak (1518-1530), Ia sangat
dikenali dengan mempunyai kepribadian yang mampu memecahkan berbagai masalah
walaupun ia sangat rumit. unan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga
sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya adalah melalui seni iaitu
dari lagu Sinom dan Kinanti .[44]
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Setelah Islam datang ke Indonesia banyak
perubahan-perubahan yang terjadi terutama bagi rakyat yang menengah ke
bawah. Mereka lebih di hargai dan tidak tertindas lagi karena islam tidak
mengenal sistem kasta, karena semua masyarakat memiliki derajat yang sama. Islam juga membawa
perubahan-perubahan baik di bidang politik, ekonomi dan agama. Islam
juga bisa mempersatukan seluruh masyarakat Indonesia untuk melawandan mengusir para penjajah.
Umat Islam di Indonesia pada fase penjajahan Belanda dan
Jepang mengalami penderitaan yang luar biasa berat. Hal di sebabkan oleh
kebijakan penjajah yang di berlakukan bagi masyarakat pribumi. Berdasarkan pembahasan diatas dapat
disimpulakan kebijakan yang di buat kedua penjajah ini terdapat perbedaan. Kebijakan yang
di buat Belanda lebih bersipat diskriminatif, yaitu melihat status
sosial dalam masyarakat, sering menekan bahkan kadang berusaha menghapus atau
menyingkirkan. Diantara kebijakan diskriminatif yang di buat Belanda yaitu
adanya Asosiasi pendidikan, ordonasi kebudayaan, ordonasi sekolah liar.
Kebijakan yang dibuat Jepang dalam kaitanya dengan umat
Islam lebih bersifat longgar dan demokratis. Karena tujuan utama mereka adalah
berambisi untuk memenangkan peperangan menguasai Asia Raya, dikenal slogan (Nipon
cahaya Asia; Nipon pelindung Asia dan Nipon pemimpin Asia). Jepang menyebut
dirinya sebagai “Saudara Tua” rakyat Indonesia.
Dalam hal-hal tertentu pemuka umat Islam diberikan kekuasaan dan
keleluasaan mengembangkan agamanya menyamakan jenis sekolah untuk mendapatkan
bantuan, termasuk kebijakan yang berkaitan dengan Kantor Urusan Agama (shumuka),
Masyumi, PETA, dan Hizbullah.Namun dari realitas yang terjadi, kebijakan itu
ternyata memiliki kesamaan tujuan yaitu bagaimana mengekploitasi dan
mempolitisir umat Islam dan kekayaan bumi Nusantara.
Selama jaman penjajahan barat itu
perjalanan proses kritenisasi di Indonesia kedatangan bangsa barat memang telah
membawa kemajuan teknologi. Tetapi tujuannya adalah untuk meningkatkan hasil
penjajahannya bukan untuk kemakmuran bangsa yang dijajah. Begitu pula di bidang
pendidikan. Mereka memperkenalkan sistem dan metode baru tetapi sekedar untuk
menghasilkan tenaga yang dapat membantu kepentingan mereka dengan upah yang
murah dibandingkan dengan jika mereka harus mendatangkan tenaga dari barat.
Maksud dari pemerintahan Jepang
ialah supaya kekuatan umat Islam dan nasionalis dapat dibina untuk kepentingan
perang Asia Timur Raya yang dipimpin oleh Jepang. Jepang membentuk badan-badan
pertahanan rakyat seperti Haihoo, Peta, Keibondan sehingga penderitaan rakyat
lahir dan batin makin tak tertahankan lagi. Malah menjadi kekuatan bagi umat
islam dan bangsa Indonesia.
3.2. Saran
Penulis yakin dalam penulisan ini masih
banyak kesalahan. Untuk itu
kritik,saran,komentar sangat diperlukan untuk memperbaiki tugas ini untuk
selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
ALfian,Dkk..2007.Islam di Asia Tenggara..Jakarta:
PT Raja Grafindo
Badri, yatim. 2004.Sejarah Peradaban Islam.Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada
Badri ,Yatim.2008.Sejarah Peradaban Islam,Jakarta:PT
Raja Grafindo Persada
Drs. Hasbullah. 2001.Sejarah Islam di Indonesia.Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada
Hasbullah .1996.Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia.
Jakarta:,Rajawali Pers
Kartodirdjo,Sartono.1987.Pengantar
Sejarah Indonesia Baru,Jakarta : PT Gramedia
Mansur.2005.Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia.Jakarta: Departemn Agama
Sunanto, Musyrifah.2005.Sejarah Peradaban Islam
Indonesia.Jakarta:,PT Raja Grafindo
Persada
Description: Islam di Indonesia Fase Kolonial Rating: 4.5
Reviewer: Salman Syuhada ItemReviewed:Islam di Indonesia Fase Kolonial
[4] Yatim Badri,Sejarah
Peradaban Islam,Jakarta:PT Raja Grafindo Persada,2008,hlm.234
[9]
Ibid.,233-234
[10]Hasbullah
,Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia,Rajawali Pers
,Jakarta,1996,hlm.61.
[12]Zuhairini,dkk.sejarah pendidikan islam.departemen
agama: bumi aksara,1997,hlm.151
[14]Ibid.,hlm.59
[15]Ira.M.Lapidus.2000.Sejarah social umat Islam.Jakarta : PT
Raja Grafindo Persada.hlm.321
[16]
Dr.Musyrifah Sunanto,Sejarah
Peradaban Islam Indonesia , Jakarta ,PT
Raja Grafindo Persada ,2005,hlm.29
[18]
Ibid.,hlm.32
[19]
Ibid.,hlm.33
[20]Taufik Abdullah (Ed),op.cit.,hlm.148
[22] Ibid.,hlm 34-34
[25]Ibid.,hlm.43
[26] Ibid.,hlm.44-45
[28]
Dr.Musyrifah Sunanto,Sejarah Peradaban Islam Indonesia , Jakarta ,PT Raja Grafindo Persada ,2005,hlm.118
[29]Ibid.,hlm.119
[30]Ibid.,hlm.120
[31]Ibid.,hlm.12
[32]Ibid.,hlm.1221
[34]Ibid.,hlm.132-124
[35]Ibid., hlm.124-125
[36] Ibid., hlm.125-126
[37]Ibid.,hlm.126
[38]Yatim
Bandri, Sejarah Peradapan Islam,Jakarta : PT Grafindo Persada,2008,hlm.250
[39]Ibid.,
hlm.260
[41]Ibil.,hlm.263
[42]Ibid., hlm.264
[43]Ibid.,hlm.264-265